Laskar Gantong Tertidur Pulas

Akhirnya terkabul juga keinginan istri saya untuk menonton film bersama-sama di bioskop. Namun tidak seperti rencana semula yang hanya berdua saja, kesempatan kali ini diikuti 15 orang sekaligus. Yang ditonton juga bukan AAC, tetapi Laskar Pelangi — saya lebih suka menyebutnya Laskar Gantong

Saya duduk bersebelahan dengan istri saya, sebaris dengan 3 orang kakak perempuan saya. Sementara di baris berikutnya, Yasmin berkumpul dengan sepupunya.  Semua tampak tidak sabar menunggu film diputar. Sesaat kemudian, celotehan yang terdengar riuh rendah menghening seketika bersamaan dengan meredupnya lampu di ruang pertunjukan yang menandakan film baru saja dimulai.

Menjelang pertengahan film, terdengar sayup isak sedih yang tertahan. Mungkin jika suara film dikecilkan, isakan itu terdengar seperti koor. Larut dalam tontonan singkatnya. Saya pun mendapati istri saya menyeka air mata, seakan dia mengalami sendiri kejadiannya.  Luar biasa! Saya sendiri tidak pernah berhasil membuatnya terisak seperti itu.

Film selesai diputar. Penonton tampak puas. Saya beserta rombongan bergegas meninggalkan ruang pertunjukan.  Istri saya tersenyum sambil mengutarakan niatnya untuk memiliki DVD film tersebut kelak. Saya mengiyakan tanpa pernah tahu kapan keinginan istri saya terlaksana. Mungkin masih 6 bulan ke depan, mengingat film ini booming.

—-

Tiga hari setelah acara menonton bersama, saya mengatakan keinginan saya untuk menonton kembali film yang sama. Istri saya terperangah seakan tidak tidak percaya bahwa saya akan mengulang menonton film yang sama. Dia mengajukan diri untuk menemani.  Saya tersenyum tanda setuju, saya juga menambahkan alasan bahwa saya hanya ingin menyenangkannya.

Istri saya berlalu dari hadapan saya dengan senyum mengembang. Saat itu pula ingin rasanya saya membenturkan kepala ini ke tembok rumah. Betapa tidak, saya tidak mampu berkata jujur — saya harus berbohong untuk menyenangkan istri saya. Padahal apa sih susahnya kalau saya berkata jujur bahwa saya tertidur di pertengahan film dan baru terbangun ketika vocal Giring menyeruak di tengah ruang pertunjukan? Toh seburuknya pendapat istri saya — seandainya saya berkata jujur — tidaklah jauh berbeda dengan pendapatnya ketika dia menyesalkan ketidakhadiran saya sewaktu menonton AAC: “Karena aku sudah halal bagimu maka kamu tertidur pulas!”  Tetapi kali ini saya tidak akan cengengesan seperti beberapa bulan lalu. Saya akan mengambil tambourine dan menyanyikan lagu Bunga Seroja  versi Mahar, agar istri saya percaya bahwa dalam tidurpun saya tetap dapat menyimak film Laskar Gantong!

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah… ah…

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

( Reff )
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Lupakan saja asmara
Pada asmara…
Lupakan saja asmara
Pada asmara…

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah… ah…

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

 

 

 

Advertisements
Published in: on Wednesday, 15 October, 2008 at 8:08 pm  Comments (7)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2008/10/15/laskar-gantong/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 CommentsLeave a comment

  1. AKu cuman nangis bukan karena filmnya, tapi karena inget adegan di bukunya, film memang tidak sama dengan buku, tapi buku laskar pelangi itu buku yang sangat filmis, detailnya bisa membuat film di otak kita.

    Aku kecewa sama riri reza karena kualitas aktingnya masih jauh dari basic, dan pemilihan adegan yang jauh dari memperhatikan detail.

  2. Ada juga sih yang bilang kalau filmnya justru lebih realistis dibanding bukunya. Misalnya tentang si Mahar yang berlanggam jazz berubah menjadi dendang melayu.
    Dari perbedaan ini, saya acungi jempol sikap dewasa penulis Laskar Pelangi – AH: “RR sudah menerjermahkan sesuai keinginan penonton”. Bandingkan dengan sikap penulis AAC yang seakan menyesali filmnya diterjemahkan oleh HB.

    BTW saya sepertinya masih lebih “pegang” Nur Sutan Iskandar (Pengalaman Masa kecil) untuk detail dan keaslian cerita. Entah ya apakah saya terperangkap di masa itu:-?

  3. Kalo aku sih lebih suka nonton filmnya langsung, soalnya baca novelnya itu menjenuhkan. Jadinya akupun gak pernah kecewa dengan film yang diangkat dari novel, kan gak tahu gimana aslinya. yang penting ceritanya mengena. Lihat pengalaman saya selengkapnya sebab nulisnya kebanyakan.

  4. Aliv, pilihan anda pada mata dan hati, sering diteruskan menjadi mata hati:) Jujur saja saya lebih suka menonton James Bond daripada membacanya dalam tulisan Ian Fleming yg hanya sejilid, tetapi saya akan lebih suka membaca Senopati Pamungkas 20 sekian jilid daripada menonton filmnya — kalau ada yg memfilmkan.

  5. Hehehe…Saya penggila buku.Saya suka membaca.Jd buat saya,buku2 yg akhirnya dijadikan film hasilnya selalu minus.Saya tdk memperoleh kepuasan yg sama seperti saat saya membaca bukunya.
    Mengenai Laskar Pelangi bagaimanapun saya bisa mengacungi jempol , karena akhirnya ada film yg patut di tonton untuk anak2 dan keluarga.Dan saya juga hrs mengakui kebenaran kata2 anak saya ,untuk tidak menyamakan bahasa film dan bahasa buku.Sedangkan Unt AAC?No way…..Saya sudah membaca bukunya sejak lama, dan setelah membaca sy memasukkannya dalam kategori “Bukan buku favorit”.Ceritanya “ga gue banget”.Jadi filmnya pun tidak masuk dalam daftar tontonan saya……

  6. hal yang akhir-akhir ini menyedihkan atau malah menyenangkan berkaitan dengan film adalah X-Men Origins : Wolverine

    Udah lama aku nunggu2 film itu yang katanya terbit bulan Mei, ehhh akhir2 ini dah muncul aja bajakannya, hiks. Diantara seneng dan sedih…

    loh kok jadi ngomongin X-Men, ben lah… ga popo, heheee :mrgreen:

  7. Maish menunggu film lain yang seperti ini….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: