Green Spot dan Tung Fong 51

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, hari yang paling dinantikan oleh murid adalah pembagian rapor. Tak perduli bagaimana angka yang tertera di rapor — apakah masuk kategori A, B, atau C  bahkan D — semua murid terlihat sumringah

Ya tentunya mereka berbahagia karena sesudah menerima rapor akan diikuti dengan liburan sekolah, yang berarti juga bebas bermain seharian penuh sepanjang masa liburan.  Pada saat pembagian rapor semua murid tampil tidak seperti biasanya. Kalau pada hari biasa setelah istrirahat jam pelajaran pakaian seragam mereka pasti sudah lusuh karena berlarian ke sana-sini ataupun karena bermain bola di lapangan sekolah, maka pada hari pembagian rapor mereka akan terlihat tertib dan rapih sampai selesai pembagian rapor. Suara riuh-rendah yang mencirikan sebuah sekolah dasar juga tidak terdengar meskipun tidak ada satupun papan pengumuman yang bertuliskan: harap tenang, ada pembagian rapor!

Mungkin paparan kejadian di atas masih berulang sekarang ini di beberapa sekolah dasar di Kampung Besar, namun ada beberapa detail kejadian yang saya yakin tidak akan pernah terulang seperti masa saya di sekolah dasar. Salah satunya, sebut saja, ritual kecil di dalam kelas. Dalam ritual kecil itu setiap murid diwajibkan membawa penganan berupa kue dan minuman botol. Kue dan minuman tersebut disantap bersama di dalam kelas sebelum acara utama dimulai.  Tidak ada yang istimewa dari kue yang dibawa oleh tiap murid, misalnya kue pisang atau kue bugis.  Hal yang istimewa justru terjadi dengan minuman botol. Seperti layaknya iklan minuman botol yang sering muncul di media elektronik: apapun makanannya kuenya yang penting minumnya teh botol minuman botolnya.  Kebanyakan dari murid-murid mebawa  minuman bermerk Green Spot dengan aroma jeruk (mandarin) dan ada juga yang membawa minuman bermerk Tung Fong 51 dengan rasa saparila (rootbeer?).  Minuman botol ini dinikmati bersama-sama, tepatnya beramai-ramai, satu bibir botol dapat pindah beberapa kali ke bibir mungil murid-murid di dalam kelas.  Terlebih untuk merk Tung Fong 51 yang dibalik setiap tutup botolnya (betawi: kerop) selalu berbeda antara botol yang satu dan lainnya.  Seakan tidak percaya jika bermerk sama akan menyajikan rasa yang sama, selalu saja ada yang ingin mencicipi minuman murid lainnya.  Sayangnya ritual ini hanya berlangsung sampai kelas III sekolah dasar, selanjutnya kami selalu ditemani orang tua ketika menerima rapor dan tanpa membawa penganan apapun.

—-

Beberapa minggu lalu — sekitar 33 tahun setelah ritual kecil berakhir — ketika sedang menemani istri saya berbelanja, saya dikejutkan oleh teriakan tertahan dari istri saya. Dia menggamit lengan saya sambil bergegas memasuki sebuah gerai rumah makan yang tampak oldskool.  Interior di dalam gerai tersebut tampak membingungkan karena berusaha memadukan gaya tahun ’50an hingga ’70an, bahkan sebuah poster besar yang terdiri atas sekumpulan photo tua  dan dijadikan wallpaper menjelaskan bahwa itu adalah produk masa sekarang. Untung saja si pemilik gerai tidak nekad menambahkan dengan asesori  ’80an — yang jelas sangat berbeda dengan dekade sebelum atau sesudahnya.

Sampai di sini tidak ada yang menarik perhatian saya, bahkan daftar menu seakan tidak menggugah selera.  Entahlah, apakah karena saya baru saja berbuka puasa atau karena nama makanan yang tertera di daftar menu terasa asing (khas Semarangan). Ketika istri saya sibuk melihat daftar menu dan mulai memesan, saya putuskan untuk beranjak dari kursi dan menghampiri pojokan gerai yang ditata bak warung kelontong di kampung-kampung. Ada jejeran toples kerupuk berbahan seng lengkap dengan kaca intip, juga beberapa  toples kaca, dan tidak ketingggalan penganan dalam plastik terjulur menggunakan tali.  Mata menyapu seluruh isi toples dan terhenti pada salah satunya. Tampak jelas bungkusan berbentuk silinder yang terasa tidak asing bagi saya. Dugaan saya itu adalah sejenis sagon (betawi) yang semasa sekolah dasar sering digelari kue haus.  Saya mengutarakan dugaan saya dan penjaga gerai — yang ternyata juga adalah pemilik gerai — spontan membenarkannya.  Tanpa ditanya si pemilik gerai mulai menjelaskan seluruh koleksi penganan antik yang terpampang di “warung”nya.  Sambil mengangguk kagum mendengar kisah perburuan penganan antik, saya mencicipi kerupuk pasir dari salah satu toples. Ternyata rasanya tidak berbeda dengan kerupuk pasir yang saya cicipi 30 tahun lalu.  Bedanya, kalau sekarang saya mencicipi dengan membayar, dulu saya harus menukar sebungkus kerupuk tersebut dengan botol bekas.

Lidah masih terperangkap di masa lampau ketika istri saya memberi tanda untuk mendekat. Belum lagi saya benar mendekat, dia sudah menunjukan salah satu baris kata pada daftar menu. Mata saya membelalak ketika membaca baris kata tersebut: Green Spot!  Dengan cepat saya berbalik menghampiri pemilik gerai dan menanyakan kebenaran temuan istri saya.  Si pemilk gerai hanya tersenyum dan menyambung kisah perburuannya dengan kisah Green Spot.

Tidak terasa hampir 2 jam penuh saya dan istri saya berada di rumah makan oldskool tersebut. Sambil bersendawa akibat menenggak 2 botol Green Spot + es cacah, saya mengajak istri saya pulang. Ketika melintas di bagian  “warung”, saya menanyakan kepada pemilik gerai apakah saya boleh membeli Green Spot tersebut berikut botolnya sebagai souvenir. Dia mengiyakan sambil memperjelas bahwa itu limited edition (sebenarnya last edition) jadi hanya boleh 1 botol per orang dan hanya dapat dikonsumsi sampai tgl 10 Oktober 2008.  Saya mengangguk setuju sambil mempertegas bahwa saya ingin memiliki sebagai memorabilia. Selintas saya tanyakan apakah dia memilki munuman lain, misalnya Tung Fong 51?  Tak dinyana si pemilik gerai menyahut bahwa Tung Fong 51 juga ada, sayang hanya botolnya.

—-

Pagi itu, dua hari setelah kunjungan dari gerai rumah makan oldskool, saya bertanya kepada istri saya, kemana botol kosong Tung Fong 51? Dia hanya menggeleng tanda tidak tahu dan meminta saya mencarinya sendiri.  Saya sedikit kecewa mendapati botol Tung Fong 51 itu tidak pada tempatnya karena rencana pagi itu adalah bercerita kepada Yasmin tentang ritual kecil ketika saya di sekolah dasar. Rasanya tentu tidak lengkap dan akan sulit dipahami tanpa alat peraga.

Seluruh sudut rumah sudah saya jelajahi dan hampir seperempat jam saya membongkar tumpukan koran dan barang bekas di pojok rumah, namun botol Tung Fong 51 itu belum juga saya temukan.  Sewaktu merapihkan kembali, Yasmin mendekat sambil membuat pengakuan yang nyaris tidak terdengar.  Dia mengatakan bahwa botol-botol kosong kemarin sudah ditukarkan ke penjual gulali yang lewat di depan rumah. Kejutan yang menyenangkan mendengar pengakuan Yasmin; pertama, dia melakukan apa yang dulu saya lakukan sewaktu kecil hanya bedanya saya menukar botol bekas dengan kerupuk pasir; kedua, ternyata penjual gulali yang berwarna-warni dan rasanya manis sekali masih ada di Kampung Besar.  Tak perlu repot lagi saya menjelaskan jenis jajanan sekolah tempo dulu di Kampung besar, juga sistem barter untuk memperolehnya.

Ternyata kejutan tersebut berbalik menjadi tidak menyenangkan ketika Yasmin lanjut bercerita tentang gulali yang diperoleh secara barter.  Dari 3 buah botol bekas, dia memperoleh 3 buah gulali berbentuk ayam, pesawat terbang dan peluit yang berwarna campuran hijau dan merah. Meskipun senang, dia juga mengeluhkan rasa gulali yang becampur pahit dan manis, belum lagi warnanya tidak lekas luntur dari lidah dan jari tangan.  Mendengar tuturan ini saya langsung mendekap dan meraba dahinya, tidak ketinggalan memperhatikan bola matanya, seakan semua itu adalah tindakan yang harus diambil untuk mengetahui apakah seseorang mengalami keracunan makanan.  Selanjutnya saya hanya terdiam menatap Yasmin — yang tampak bingung dengan tindakan saya — sambil terus berpikir bagaimana harus menjelaskan judul berita di tumpukan surat kabar bekas tentang gula rafinasi yang beredar bebas dan zat pewarna pakaian yang digunakan untuk makanan. Sigh!

Catatan: gerai oldskool tersebut terletak di Mal Kelapa Gading I persis di sebelah gerai pizza

Advertisements
Published in: on Wednesday, 1 October, 2008 at 12:05 am  Comments (5)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2008/10/01/green-spot-tung-fong-51-dkk/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 CommentsLeave a comment

  1. duh senang amat sih kalau anaknya selalu meniru kelakuan bapaknya, asal kelakuan yang baik aja ya

  2. Ah Bapak sudzon deh. Gua mah gak ngerti gula rafinasi apaan tuh. Dari 30 tahun lalu juga pakainya biang gula aja. Sepuhan pakaian juga lebih mahal dari sepuhan makanan. Lagian siapa yang mau racunin jualan sendiri, anak saya juga makan kok:P

  3. pasti SD inpres

  4. Makasih Om, saya dapat ilmu dari cerita om..kebetulan saya juga punya botol Green Spot…salam kenal….

  5. Kalo mau bernostalgia dengan minuman sarsaparilla, saat ini mulai dikenalkan kembali dengan nama IndoSaparella,.. botolnya juga ngga kalah uniknya dengan yang dulu. Tapi untuk jakarta memang masih terbatas baru ada di ranch market.

    coba buka http://www.indosaparella.com
    ato http://www.facebook.com/indosaparella


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: