Aku sudah halal bagimu!

Entah mengapa istri saya berkeras mengajak saya untuk ikut ke bioskop menonton film Ayat-ayat Cinta (AAC). Padahal seperti saya sudah jelaskan padanya bahwa saya tidak tertarik menonton film apapun di bioskop manapun. Sambil lalu saya juga mengingatkannya bahwa film terakhir yang saya tonton bersamanya adalah sekuel film James Bond sebelas tahun lalu!

Belum satu jam berlalu dari pembicaraan di atas, telephone selular yang saya letakkan persis di samping saya berdering kembali. Nada panggil menunjukkan bahwa panggilan tersebut berasal dari rumah. Istri saya menelphone kembali, persis seperti dugaan saya.  Diawali dengan salam yang terburu-buru, kemudian terdengar suara istri saya yang tetap saja merajuk agar saya segera kembali ke Kampung Besar dan menemaninya menonton film tersebut.  Saya tidak mengiyakan apalagi berjanji untuk menemaninya mengingat saya berada sekitar 80 km di luar Kampung Besar dan kegiatan yang saya ikuti belum berakhir.

Semasa “ishama” saya menghampiri seorang teman dari Bangkok yang ber-KTP Bandung.  Konon kabarnya teman ini adalah pelahap semua bacaan kategori novel — dari novel rating dewasa sampai novel bernafas keagamaan. Semenarik apakah novel AAC itu, sampai-sampai ketika difilmkan banyak orang tak sabar menunggu jadwal tayangnya? Demikianlah saya membuka pembicaraan dengan air muka sangat ingin tahu.  Mulanya dia hanya menjawab datar dengan sedikit rasa enggan, namun berakhir melebar dan keluar dari inti pertanyaan. Singkatnya, banyak orang ingin tahu apakah film itu “sedalam” isi dari novelnya.

—-

Tidak ada yang saya kerjakan setelah membersihkan diri sepulang dari lokasi kegiatan.  Istri saya tidak ada di rumah ketika saya kembali, dia pergi bersama Yasmin tanpa meninggalkan pesan apapun. Pembantu yang menunggu rumah hanya mengatakan bahwa istri saya baru saja berangkat setelah menunggu tanpa kepastian kapan saya tiba di rumah. Saya coba menghubungi beberapa kali tapi sepertinya telephone selularnya dimatikan.  Akhirnya saya putuskan untuk melepas kepenatan di atas pembaringan sambil membolak-balik halaman tabloid komputer yang mulai tampak lusuh. Saya mencoba meraih bantal kedua agar terasa nyaman ketika membaca, ketika itulah mata saya terantuk pada buku yang terletak di bawah bantal kedua dengan sebaris judul di halaman muka: Ayat-ayat Cinta!

Entah berapa lama saya terlelap setelah membolak-balik novel AAC, ketika Yasmin mengguncang badan saya untuk menandakan kedatangannya. Saya bergegas turun dari pembaringan.  Tanpa diminta, Yasmin bercerita bahwa ia baru saja pulang menonton film AAC bersama ibunya dan sepulangnya mampir menyantap ebifurai kesukaannnya. Menurutnya lagi, antrian penonton berjubel . Untunglah mereka memutuskan berangkat cepat tanpa menunggu kedatangan saya, kalau tidak mungkin mereka berdua tidak mendapatkan tiket. Saya hanya tersenyum kecut mendengar penuturannya mengingat film tersebut bukanlah film untuk semua umur meskipun tidak dilabeli 17 tahun ke atas.

Saya menghampiri istri saya dan berbasa-basi mengenai film yang baru ditontonnya. Dia menjawab sekenanya. Mungkin masih kecewa karena saya tidak menemaninya menonton film AAC.  Saya tidak mau terlarut dalam sikapnya, saya malah terus merangsek bertanya apakah novelnya diterjemahkan dengan baik dalam film itu? Istri saya tidak menjawab malah balik memandang tajam. Tiba-tiba saya merasa pertanyaan saya rada bodoh. Bahasa tulisan tentulah berbeda dengan bahasa visual. Mana yang lebih baik diantara keduanya tergantung dari apa yang kita butuhkan. Mau menjadi “sutradara” dengan segudang imajinasi, ya membaca novelnya; kalau cukup puas menjadi penonton, ya tengok filmnya. Saya tidak memilih keduanya karena ingin mendengar buah pemikiran istri saya yang telah membaca novel dan menonton film AAC. Lengkap dan praktis, meskipun harus sedikit sabar menunggu kecewanya mereda.

Menjelang tengah malam di atas pembaringan, saya dikejutkan oleh ucapan spontan istri saya. Dia mengingatkan bahwa jika malam tadi menonton film bersama-sama akan menjadi yang pertama sejak kami menikah. Meskipun tersentak diingatkan seperti itu, saya tetap menyergah mengapa harus AAC? Tanpa mengindahkan, istri saya lanjut bercerita tentang tokoh-tokoh dalam AAC. Dia tidak mendambakan saya akan seperti Fahri yang terlalu sempurna; tidak juga bermimpi menjalani poligini layaknya Aisha. Saya mengangguk seakan mengerti. Kemudian istri berbisik mesra bahwa dia sudah halal bagiku. Entah apa maksudnya, saya terdiam sesaat mencerna ucapannya. Aha! Inilah buah pemikiran hasil membaca novel dan menonton film AAC  yang saya harapkan. Spontan saya merapatkan badan dengan semangat, tetapi istri saya menampik. Dia tidak lagi berbisik, “Karena aku sudah halal bagimu  tidak perlu lagi kamu “bergerilya” jika kita menonton film! Jadi saya bisa menonton dengan tenang dan kamu tidak perlu meminta diceritakan film yang barus saja ditonton.”  Saya hanya cengengesan sambil mencoba mengingat puluhan judul film yang kami tonton bersama sebelum menikah.  Ternyata sulit sekali. Jangankan jalan ceritanya, judulnyapun hanya satu-dua yang saya ingat. Ya namanya juga “zaman gerilya”, semua serba sulit.

 

 

Advertisements
Published in: on Saturday, 15 March, 2008 at 5:05 am  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2008/03/15/aku-ingin-engkau-halal-bagiku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. wah gw belum sesempurna di nopel dan pelem kok, buktinya aja sekarang masih jadi gerilyawan juga:D

  2. mau dong sama aisha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: