Met Tahun Baru, Mubarak!

Ini adalah sepenggal kisah getir dari peserta kegiatan pelatihan komputer dan kerja magang untuk Anak Nelayan Miskin di Kalibaru — salah satu kawasan kumuh di Kampung Besar — beberapa bulan lalu.

Menjelang perayaan tahun baru, tgl. 31 Desember 2007 sekitar pkl 16.00, beberapa bulan setelah pelatihan dan kerja magang, saya berkunjung ke Kalibaru bersama istri saya dan dua orang tetangga kami. Tujuannya hanya satu: mencari ikan laut yang masih segar untuk acara tahun baru bersama tetangga di sekitar rumah. Sekitar 500 m dari tempat tujuan kami sudah terhambat oleh kendaraan yang parkir di sekitar pasar tumpah. Pemandangan yang selalu sama menjelang perayaan tahun baru, pedagang ikan sudah menunggu kedatangan pembeli sampai ke tepi jalan raya. Akhirnya, setelah tersendat beberapa lama, atas saran seorang relawan lalu lintas, kami memutuskan untuk memarkir kendaraan agak jauh dari lokasi pasar tumpah dan kemudian berjalan kaki menyisiri deretan pedagang ikan satu per satu.

Istri saya bersama dua orang tetangga tengah sibuk memilih dan menawar beberapa potong ikan — sementara saya sendiri hanya berdiri mengamati tepat di belakang mereka — ketika seorang anak perempuan belasan tahun menyebut nama saya sambil menghampiri dengan cepat. Saya masih berusaha menggali ingatan tentang siapa anak belasan tahun ini sewaktu sepasang tangan kekar nan hitam legam melingkari badan saya dari samping. Saya tidak bisa melihat wajah si”penyerang” yang tampaknya sengaja ditundukkan ke bawah. Beberapa detik kemudian cengkeramannya mengendur, kemudian dengan sigap dia berdiri tegak dihadapan saya. Ingatan saya terpulihkan. Rudy, begitu saya memanggilnya, persis seperti nama kecil tokoh idolanya yang kebetulan namanya juga serupa, Baharuddin. Anak perempuan yang mendekat tadipun saya kenali sebagai operator yang kerja magang di warnet saya, Lena namanya. Tak lama kemudian, disampingnya telah berdiri pula Elfi dan seorang anak lelaki yang paling mudah dikenali di antara teman-temannya karena rambutnya berubah menjadi pirang secara alamiah,  The Rock sebutannya, panggilan “gaul” dari nama asli Mubarak. Mereka berempat adalah sebagian dari peserta pelatihan komputer dan kerja magang untuk anak nelayan miskin di Kalibaru.

Sambil memberi tanda kepada istri saya yang tampak bingung  dengan “keributan kecil” tersebut, saya mengajak mereka menepi. Mengalirlah semua cerita selama beberapa bulan tak berjumpa mereka. Mulai dari susahnya melaut akibat gelombang pasang sampai hanyutnya gubuk di pinggir laut yang mereka sebut sebagai “rumah pinter” — tempat mereka saling membantu mengingat pelajaran di kelas pelatihan. Di tengah cengkerama, mereka hanya terdiam ketika saya tawarkan kembali menjadi operator di warnet saya.  Saya tidak perlu bertanya lagi mengapa mereka terdiam, karena saya sudah hapal jawaban klise yang akan mereka berikan jika saya terus memaksa: “mereka harus membantu keluarga mereka atau mereka adalah tulang punggung keluarga sejak sang ayah tak kembali dari melaut”. The Rockpun yang biasanya sangat tanggap diajak melakukan sesuatu, sekarang hanya melengos ketika saya tawarkan untuk mengambil salah satu komputer tua di warnet. Hanya akan menjadi kandang tikus, begitu sesalnya dalam bahasa Bugis.  Obrolan kami akhirnya bergeser ke topik lainnya yang tidak terkait dengan pelatihan komputer dan magang kerja.  Mulai dari rencana Rudy untuk menjadi ABK kapal penangkap ikan asing sampai pada ultimatum dari orang tua Lena agar ia segera  menerima pinangan seorang pemilik bagan yang sudah beristri dua.  Obrolan berakhir ketika istri saya dan tetangga kami selesai berbelanja ikan segar untuk kebutuhan acara malam nanti. Saya berpisah dengan  Elfi, Lena, Rudy dan The Rock, tanpa sepatah kata ucapan perpisahan, apalagi janji untuk berjumpa lagi. Dari atas kendaraan saya sempatkan melongok ke arah mereka yang masih bergerombol memandang kepergian kami.  Saya membalas lambaian tangan yang mengiringi tatapan kosong mereka.

Sepanjang perjalanan pulang, saya hanya diam membisu sambil merenungi apa yang baru saja saya alami. Melihat dan mendengar sendiri kondisi nelayan miskin yang tidak juga membaik dari tahun ke tahun, rasanya sangat tidak pantas merayakan datangnya tahun baru dengan sukacita. Umpatan dalam hati yang ingin sekali saya lontarkan di hadapan mereka seakan terpatri di benak ini: “Ya tikusnya berpeci hitam dan tidak lama lagi akan datang kembali ke tempat kalian, seperti mereka pernah mendatangi kalian beberapa tahun lalu dan akan selalu begitu seterusnya setiap lima tahun. Namun nasib kalian yang dijual oleh mereka akan tetap seperti sekarang”.

Malam perayaan tahun baru kali ini terasa sepi meskipun bunyi mercon saling bersahutan.  Saya hanya duduk mematung memandang tetangga yang sibuk memanggang ikan, sementara itu istri saya sigap menyiapkan bumbu kecap dan cabe segar sambil mengingatkan anak kami untuk menjauh dari perapian.  Istri saya kemudian berbisik agar saya tidak hanya diam tetapi turut membantu para tetangga yang sibuk memanggang ikan.  Saya mengganguk dan kemudian mendekat ke arah perapian yang membara.  Beberapa ekor ikan tongkol seukuran betis orang dewasa yang hampir matang memercikan olesan minyak di atas bara api tampak sangat mengundang selera, tak kalah dari semilir harum tumpukan ikan baronang matang seukuran tangan orang dewasa di atas pinggan metal.  Namun tiba-tiba keinginan untuk membantu tetangga yang sibuk memanggang ikan sedikit terganggu. Entah malaikat mana yang sekonyong-konyong menggosok kedua bola mata saya.  Ketika baru saja mulai membalik ikan di atas perapian yang membara, saya hanya melihat tikus berpeci hitam — bukan ikan segar —  yang terpanggang di atas bara api itu.  Sambil menahan mual dan mundur selangkah, saya meletakkan kembali ikan tersebut. Terlintas hadis yang diriwayatkan Usamah bin Zaid ra. :

Rasulullah SAW, bersabda: Aku berdiri di depan pintu surga, tiba-tiba aku melihat mayoritas yang memasukinya adalah orang-orang miskin dan aku juga melihat para penguasa (di dunia) dalam keadaan tertahan, kecuali penghuni neraka yang telah diperintahkan kepada mereka untuk memasuki neraka. Dan aku juga berdiri di depan pintu neraka, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah dari kaum wanita

Saya menggeleng dan beristighfar:  Astaghfirul Lah- al-‘adzîm al-ladzî lâ ilâha illâ huwa al-hayya- l-qayyûm wa atûbu ilaih, kemudian dengan suara lirih saya panjatkan sejumput doa dari relung hati yang belum lagi suci dan bersih ini:  Ya ALLAH jauhkanlah kami semua dari siksa api neraka.

Advertisements
Published in: on Saturday, 19 January, 2008 at 12:54 pm  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2008/01/19/tahun-baru/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Aku tertarik dengan celoteh anda dengan bahasa yang mudah difahami oleh siapapun dan diakhiri dengan ingatan pada sang Pencipta dan Rasul-Nya. Demikianlah seorang muslim, di manapun dan apapun yang ia lakukan, mestinya selalu ingat pada Yang Maha Kuasa. Sesuaikah perbuatan kita dengan undang-undang dan peraturan-Nya? Semoga Allah selalu membimbing dan memberi petunjuk dalam setiap langkah kita. Amiin.

  2. Terima kasih:) Tapi saya masih jauh dari kualitas seorang yang harus mengingatkan — untuk memperhalus bahwa saya termasuk pada golongan yang selalu harus diingatkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: