Pak Kumis, 68, Surabaya

Seberapa pentingkah merk dagang bagi seorang penjual? Mungkin jika ditanyakan kepada Hermawan Kartajaya akan diperoleh jawaban sepanjang 2 halaman A4 dengan spasi tunggal dan ukuran font 10. Tapi bagi saya sebuah merk dagang lebih menujukkan kepercayaan diri si penjual tersebut.


Di beberapa perkulakan ataupun hypermart di Kampung Besar dengan mudah ditemui produk elektronik baru yang bernama mirip sekali dengan produk yang sudah mapan. Misalnya, pemutar DVD dengan merk Santung buatan Cina dengan font serupa dengan produk elektronik asal Korea Selatan. Jangan tanya soal kualitas. Namanya juga plesetan, maka kualitasnya juga terpleset dibanding merk asli.

Fenomena yang sama bukan hanya terjadi di Kampung Besar tapi juga terjadi di Yogyakarta, ketika semua penjual bakpia memberi merk dagangannya dengan angka, seperti bakpia 14, bakpia 45, bakpia 68 dst. Ketika ditanyakan mana bakpia yang asli, maka mereka serentak akan menjawab produk merekalah yang asli. Mungkin pertanyaannya yang harus diubah menjadi merk mana yang pertama. Yang pasti jawabannya bukan angka yang terkecil.

Lain halnya dengan merk dagang untuk usaha mikro. Pada segmen ini penampakan merk dagang justru lebih vulgar. Bukan hal baru jika suatu merk dagang ada di beberapa tempat dengan pemilik usaha berbeda. Tentu anda masih ingat dengan fenomena warung Pak Kumis. Ketika banyak warung sate dan sop kambing memasang merk “Pak Kumis” beberapa tahun lalu, padahal susah sekali menemukan pemilik warung tersebut yang berkumis. Kenyataan ini semakin terasa konyol ketika saya mencoba hidangan di warung Pak Kumis imitasi yang ternyata rasanya lebih lezat dari yang disajikan warung Pak Kumis asli. Wow!

Last but not least. Saya teringat kejadian duapuluh tahun lalu ketika penjual mie dok-dok menjamur di jalan-jalan disekitar rumah dari petang hingga menjelang tengah malam. Ketika itu saya memesan nasi goreng dan keponakan saya yang berumur 6 tahun meminta dibuatkan mie goreng. Sewaktu sedang menunggu pesanan kami, keponakan yang baru bisa membaca terdengar mengeja tulisan pada gerobak si penjual. “Nasi-Mie Goreng dari Surabaya, ” begitu ujarnya dengan terputus-putus. Transaksi selesai dan si penjual berlalu, namun ternyata masih menyisakan satu pertanyaan bagi keponakan saya. Ia menggumam perlahan: “Jam berapa ya si abang dok-dok berangkat dari Surabaya?” Silahkan anda jawab.


Advertisements
Published in: on Saturday, 23 June, 2007 at 6:40 am  Comments (4)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2007/06/23/pak-kumis/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 CommentsLeave a comment

  1. Kalau warnet kumis ada gak yach?

  2. Kalau “Pak Kumis” spesialis di jasa boga, warnet kan termasuk jasa lain-lain. Ada juga yang mirip “Pak Kumis” namanya group 24. Tunggu aja deh di celotehan selanjutnya

  3. Waks..waks..
    Tadinya kirain bahasannya serius, tapi ternyata santai [^_^]
    Titip salam buat ponakannya ya Om 😉

    kaptevu
    **selalu nyukur kumis**

  4. Wah bang kangen nih, dah lama ngga nambah tulisannya. Abang lagi repot ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: