Beduk

Malam ini adalah malam menjelang Idul Adha yang biasa disebut juga Hari Raya Qurban. Penunjuk waktu sekarang ini menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit. Hanya beberapa jam sebelum umat Islam di tanah air akan melangsungkan shalat Idul Adha 1427 H yang ditetapkan tanggal 31 Desember 2006.

Di segenap pelosok masih terdengar beduk bertalu-talu ditabuh anak-anak belasan tahun. Riuh rendah bunyinya kerap diselingi suara mercon yang menggelegar. Mendengar bebunyian seperti itu, ingatanpun terseret kembali ke dua puluh sekian tahun silam. Hanya saja waktu itu penduduk Jakarta belumlah sepadat sekarang, meskipun suara beduk yang terdengar tidak kalah riuhnya. Satu hal lagi yang membedakannya, yaitu irama tabuhan beduk. Dulu irama tabuhan mengikuti alunan takbir asma ALLAH; sekarang ini, kadang tanpa mengiringi takbir dan irama tabuhannya malah terdengar seperti solo drum dari AJ. Pero (Twisted Sister) dalam lagu We’re not gonna take it (album Stay Hungry). Apakah ini tanda zaman atau sekedar simpangan karena kurangnya arahan? Entahlah, tetapi rasanya masih banyak yang harus direnungkan dalam malam menjelang Idul Adha ini dari sekedar mempermasalahkan irama beduk yang penuh improvisasi di atas. Misalnya saja tentang mantan penabuh-penabuh beduk yang selalu meramaikan malam menjelang Idul Adha dan — terutama — Idul Fitri.

Heru, demikian saya memanggilnya. Mungkin malam seperti ini di Brussel, tempat tinggalnya sekarang, dia juga sedang melamunkan kebiasaannya di setiap malam menjelang Idul Adha dan Idul Fitri dua puluh sekian tahun lalu. Selepas Isya dan sehabis menyantap opor ayam, menurutnya, dia beserta beberapa teman-temannya berkumpul di depan musholah bersiap melakukan takbir dan tentunya menabuh beduk. Sebagai penabuh utama ia langsung didaulat untuk segera menaiki becak yang sudah dimuati beduk terlebih dulu, kemudian diikuti oleh temannya yang menjadi penabuh kedua dan ketiga. Di belakang becak tersebut bersiap pula sebuah becak lain yang disarati loudspeaker berwarna biru bermerk Toa dilengkapi microphone dan amplifier bermerk Moron, tidak ketinggalan juga sumber listrik berupa aki ukuran besar bermerk Tornado. Tanpa menunggu perintah 4-5 orang anak berebut tempat di becak kedua, merekalah juru takbir yang sudah tidak sabar untuk mengumandangkan asma ALLAH. Kedua becak bergerak beriringan mengelilingi Kampung Sawah yang terletak di Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok. Dalam prosesi kadang rombongan ini juga bertemu dengan rombongan lain. Pada saat berpapasan biasanya mereka saling unjuk kebolehan dalam menabuh beduk. Menurut Heru, sedikit improvisasi dibutuhkan dalam unjuk kebolehan ini. Kadang ia juga menabuh bagian tabung beduk sehinga terdengar bunyi “tek” bukan hanya “duk” seperti ketika menabuh bagian kulit. (Saya tidak mau menarik simpulan bahwa improvisasi seperti itu yang menyebabkan tabuhan beduk sekarang ini kadang terdengar lain, tapi rasanya juga tidak berlebihan kalau dikatakan unsur unjuk kebolehan merupakan penyebabnya). Menjelang tengah malam rombongan Heru dan teman-temannya sudah kembali dari berkeliling kampung. Beduk dan perlengkapan lain diturunkan dari becak. Setelah semuanya beres, Heru dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dengan hati puas dan gembira. Acara takbir dan menabuh beduk dilanjutkan beberapa lelaki dewasa di depan musholah hingga menjelang subuh.

Sepelemparan batu dari tempat tinggal Heru, tinggal seorang teman lain yang bernama Harry. Lain halnya dengan Heru yang menjadi penabuh beduk utama, Harry adalah seorang penabuh beduk pengganti. Ketika penabuh beduk utama kelelahan, Harry langsung mengambil tongkat pemukul beduk dan melanjutkan tabuhan. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: Harry tidak merayakan Idul Adha juga Idul Fitri. Dia melakukannya karena dorongan solidaritas semata. Semoga saja di Groningen malam ini dia juga masih membayangkan irama beduk yang bertalu-talu.

Advertisements
Published in: on Sunday, 31 December, 2006 at 3:10 am  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://yamin.wordpress.com/2006/12/31/beduk/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Ah… beduk in Tanjung Priok. My Hometown. There is the place I grow up even rite now I raise my family there while I am going abroad to work. Some sentimental feelings are come up when time usher me to Idul Fitri.

    There is a reason why I always miss to celebrate Idul Fitri in Jakarta. In 1993, I was at Athens, Ohio, US to study broadcast sponsored by USIS (now USAID). For the first time my tear comes in Idul Fitri because I feel completely alone even surrounding by Indonesian, Malaysian and Singaporean students. I miss my kampung and family.

    Then when I work in Singapore. I promise myself I must celebrate Idul Fitri or Hari Raya — in Malay — in Indonesia, no matter what. It is because I feel so terrible when I celebrate Idul Adha in Singapore. Can you imagine, after sholat Ied I eat Mc Donald with my friends while all my kampung friends in Jakarta are busy with goat, sheep and cows to slaughter. And in Singapore, nobody care about Idul Adha even the Malay itself. For them, it just another one day off.

    I remembered, I spent almost 1800 SGD to buy cloths, apparels, shoes with my wife, to compensate my “hurt” feeling he he he.. After shopping, I with my wife( at that time we haven’t got any kid and still lontang lantung berdua ) had promised. No matter what we must celebrate Idul Fitri in Jakarta.

    Then, I just like Jakarta’s urban people whom I always take cynical comment on them” ” Ngapain sih jejelan di kereta api, ditipu sama calo bis pergi mudik untuk lebaran, heran deh .. “.

    One month before Idul Fitri , I must book ticket to Jakarta with very expensive fare. It’s almost three times doubles. If you are not lucky enough to get “this fare ” ( around 350 SGD ) be prepare to buy 600 SGD’s SQ ticket for JUST only one way. All travel agencies are in the same tone. They know for sure, around 50 thousand of 300 thousands Indonesian in Singapore will go mudik.

    But “inpatient- happy – homesick- feeling” is always overwhelming all painful feeling when you purchase the ticket. Even I am happy to spend the money to buy “oleh oleh” and ” hadiah lebaran” to my mom, dad, brothers, and sister in laws, nephews and cousins. Frankly, it always cost me around 3000 – 3500 SGD. So we ( me and my wife ) will always have a long “must buy” list from my family. Sometimes we reject the request because it’s too bulky to carry or too heavy. We buy those entire things with happy even feeling weak and thirsty because we are fasting.

    Now you know I am a part of “mudiker” .. who is always try hard to get a ticket going home and have to bring big and heavy luggage to my homeland Sungai Bambu Tanjung Priok. Spending around 4500 SGD every year excluding “additional” expenditure in rupiah JUST TO CELEBRATE IDUL FITRI.. I always miss sound of Beduk in the eve of Idul Fitri Raya mix with takbir and takmid. No matter Beduk’s sound like Twister Sister ( udah bubar tu group ), but the spirit and soul of Idul Fitri still strong.

    Now I have three kids. I always take the two to the mosque when we mudik kampung in Sungai Bambu. They are
    always happy and laugh to drum the beduk and sing English song ” Gorilla and the drum ” just what they learn in kindergarten. Everybody laugh on them. including my long-time ustad at masjid Al Muhinah, Gang Asem, Sungai Bambu. I feel blessed then… and that I always miss another Idul Fitri and sound of Beduk

  2. Keep the spirit alive yeah!
    Bud, pernah kepikir ngga sekali-kali mendatangkan orang tua dan keluarga dari kampung bukan sebaliknya kita pulang kampung pada saat Idul Fitri. Hitung-hitung mentraktir jalan-jalan. Kalau memang pernah terpikir, saya daftar deh:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: